Ekonomi - Bisnis

‘Bertarung’ Ditengah Pandemi Bukanlah Persoalan, Produk Tas dan Dompet Kulit Abinaya Bag Tetap Diminati

 
Inderalaya
 
Bukan  kabar baru jika karena virus corona, sektor ekonomi masyarakat  turun termasuk penjualan berbagai bentuk tas dan dompet kulit Abinaya Bag. Meski dalam posisi sulit, bertarung di tengah pandemi bukanlah persoalan. Karena produk tas dan dompet kulit Abinaya Bag tetap diminati
 
Owner Abinaya Bag Silfa Prajawati saat melakukan pameran pada perayaan hari ibu ke-93 di Inderalaya, Ogan Ilir mengatakan usaha yang dirintis sejak empat tahun lalu itu melibatkan mitra dari luar Sumatra Selatan. 
 
“Dalam membuat aksesoris berbahan kulit hewan ini, kami bekerjasama dengan mitra dari Magelang (Jawa Tengah) dan Denpasar (Bali). Kalau dulu tukang pembuat tas sampai 4orang, karena korona berkurang jadi 2orang. Soalnya dulu omset penjualan tas dan dompet 7-18buah, sekarang menurun 50persen sebari. Artinya kalau dulu omset sehari bisa Rp 7jutaan, kalau saat ini turun 50persen jadi Rp3jutaan. Meskipun turun 50persen namun kita tetap optimis,”kata istri Heriwan ini.
 
Silpa mengungkapkan, bahan baku pembuatan aksesoris berupa tas, dompet dan topi berasal dari kulit hewan, diantaranya kulit ular piton, ular cobra, biawak, kambing, domba, sapi. 
 
Kulit-kulit hewan ini berasal dari Sumatra, Kalimantan dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 
 
“Untuk bahan kulit, sebagian berasal dari luar Sumatra. Proses pembuatan aksesoris juga dilakukan di Magelang dan Denpasar. Sedangkan untuk pemasarannya, melalui Palembang dan didistribusikan kepada konsumen di seluruh Indonesia,” ujarnya lagi. 
 
Proses pembuatan tas kulit ini diawali dengan penyamakan atau proses pengolahan untuk mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak.
 
Selanjutnya penjemuran, pewarnaan dan penjahitan kulit. 
 
“Kalau bahan kulitnya siap (ada), proses pembuatan satu buah tas bisa satu minggu. Kalau kulitnya belum siap, bisa sampai satu bulan,” kata Silpa. 
 
Menurut wanita 48 tahun ini, proses yang paling memakan waktu dari merancang tas kulit ini ialah proses penjahitan. 
 
Pada proses penjahitan, diperlukan kecermatan dan ketekunan agar menghasilkan aksesoris yang ciamik. 
 
“Kalau tidak hati-hati saat menjahit, bisa-bisa bahan kulit robek atau bisa juga tidak simetris,” jelas Silpa. 
 
Untuk sekali produksi, usaha Silpa ini bisa menghasilkan 12 buah tas untuk satu macam. 
 
Adapun harga tas dibanderol mulai Rp 300 riban  hingga Rp 4 juta, tergantung model dan motif barang. 
 
“Seperti tas motif kulit ular piton ini harganya Rp 4 juta. Ya kita jual macem macem bentuklah ada tas untuk ke kantor, tas untuk nge-mall, tas untuk ke kondangan, dan sebagainya,” kata Silpa sambil memegang sebuah tas dengan motif sisik perisai ventral atau sisik bagian bawah kulit ular piton. 
 
Meski di masa pandemi ini angka penjualan aksesoris tas menurun hingga 50 persen, Silpa tetap konsisten melanjutkan usahanya. 
 
“Saya memulai usaha ini karena suka aksesoris dan saya yakin ke depan penjualannya akan meningkat lagi seiring situasi pandemi yang terus mereda. Insya Allah mohon doa dan dukungannya,” kata Silpa optimis.
 
Sementara pelanggan tetap Abinaya Bag Samsiah mengatakan sering membeli tas dan dompet kulit tersebut, “saya memang suka tas kulit, harganya relatif murah, kualitas grade A, modelnya uptodate, warnanya menarik, penjualnya ramah, jadi oke punya-lah. Ayo silahkan berbelanja disini,”ujarnya. #primasari
0 0 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button