Asian Agri Hadirkan Bibit Topaz di Pekan Benih Sawit Indonesia 2026 Palembang

Palembang – Asian Agri, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka di Indonesia sekaligus produsen benih unggul kelapa sawit, memperkenalkan varietas kelapa sawit unggul Topaz 1 dalam rangkaian kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan Pekan Benih Sawit Indonesia 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Sumatra Selatan, (12/2/2026).

Varietas ini dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan Program PSR, khususnya di wilayah rawan kekeringan seperti Provinsi Sumatra Selatan.
Head of Planting Material Asian Agri, Yopy Dedywiryanto, menyampaikan bahwa pengembangan DxP unggul Topaz telah melalui proses pengujian multilokasi di dua provinsi dengan tiga jenis tanah berbeda yang mewakili keragaman iklim dan kondisi tanah di Indonesia.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan produktivitas yang tinggi dan stabil.
Lebih lanjut, pengujian tidak berhenti pada Generasi 1, tetapi dilanjutkan secara komprehensif pada DxP Topaz Generasi 2, yang merupakan kombinasi persilangan dari indukan yang telah tertanam di Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz milik Asian Agri di Riau.
Pengujian Generasi 2 ini dilakukan secara konsisten sejak tahun 2002 hingga saat ini dengan total luasan lebih dari 700 hektare. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, saat ini OPRS Topaz hanya memproduksi kombinasi persilangan yang telah teruji dan terbukti mampu menghasilkan 24 ton TBS/ha pada TM 1, rata-rata 38 ton TBS/ha pada TM 3 hingga TM 6, dengan OER mencapai 29% serta potensi CPO lebih dari 10 ton/ha. Sementara itu, kombinasi yang memiliki potensi CPO di bawah 10 ton/ha telah dikeluarkan dari lini produksi.
“Ini merupakan komitmen kami untuk hanya memberikan mutu terbaik bagi pelanggan,” tegas Yopy.
Untuk wilayah Sumatra Selatan yang dikenal rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau (Juni–September), Yopy menegaskan bahwa Varietas Topaz 1 merupakan pilihan yang tepat. Ia menjelaskan bahwa kondisi kemarau panjang dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) hingga 30%.
“Topaz 1 mampu menghasilkan 18–20 tandan per pohon per tahun, dengan bobot tandan lebih dari 16 kg per tandan serta rendemen minyak yang tinggi. Hal ini menjadikan Varietas Topaz 1 sebagai varietas terbaik yang dimiliki OPRS Topaz untuk daerah kering seperti Sumatra Selatan,” ungkapnya.
Selain produktivitas yang tinggi, Varietas Topaz 1 memiliki rata-rata pertambahan tinggi sekitar 50 cm per tahun, sehingga lebih memudahkan proses pemanenan TBS, meningkatkan produktivitas pemanen, dan pada akhirnya menurunkan biaya panen. Varietas ini juga memiliki warna buah virescence (hijau saat muda dan oranye saat matang), yang dinilai dapat mengurangi potensi pencurian buah serta meminimalkan kehilangan produksi akibat buah busuk yang terlewat dipanen pada pohon yang tinggi.
Terkait isu rendahnya rendemen minyak pada buah virescence, Yopy menegaskan bahwa anggapan tersebut tidaklah benar. Berdasarkan hasil pengujian terhadap 81 persilangan Topaz 1, dengan lebih dari 1.500 pohon untuk masing-masing warna buah serta lebih dari 3.000 tandan yang teranalisa, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara buah virescence dan buah nigrescens, baik dari sisi jumlah tandan, berat tandan, maupun kandungan minyaknya
“Kami ingin petani sawit di Sumatra Selatan yang sedang menjalankan program PSR semakin mengenal dan merasakan peningkatan produktivitas secara signifikan dengan menanam bibit unggul Topaz yang telah teruji dan terbukti, khususnya Varietas Topaz 1,” tutup Yopy.(ril)


