Dari TBM hingga Tanaman Menghasilkan, Pekebun OKU Belajar Menjaga Produktivitas Kebun

Palembang
Saat tanaman kelapa sawit belum menghasilkan, pekerjaan pekebun belum selesai. Justru pada fase inilah tanaman membutuhkan pengelolaan yang menentukan pertumbuhan dan kesiapan memasuki masa produksi.
Begitu tanaman memasuki fase menghasilkan, tantangannya kembali berubah. Pemeliharaan, pemupukan, pengendalian gulma, hingga pengelolaan menjelang panen harus dilakukan dengan tepat agar potensi produksi dapat dipertahankan.
Gambaran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit yang diikuti 176 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Peserta Angkatan XXX hingga XXXV mengikuti pelatihan selama enam hari, 29 September-4 Oktober 2026, sebagai bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Dalam pemberitaan pembukaan, Direktur IPB Training Muhammad Sigit Susanto, MM., CPC, mengingatkan bahwa bibit unggul saja tidak cukup untuk menghasilkan kebun produktif. Pengelolaan tanaman harus dilanjutkan dengan praktik budi daya yang tepat sejak persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit hingga panen.
Pesan tersebut menjadi penting karena banyak keputusan di kebun harus dibuat berdasarkan fase pertumbuhan tanaman.
Pada fase TBM, misalnya, peserta mempelajari bagaimana tanaman dikonsolidasikan dan disensus, serta bagaimana perawatan piringan, gawangan dan pasar pikul dilakukan secara berkala. Ketika tanaman mulai mendekati masa panen, perhatian bergeser pada sensus tanaman berproduksi rendah, kastrasi, sanitasi, pembuatan pasar pikul, pemasangan titi panen dan TPH.
Hal-hal yang tampak teknis tersebut justru berhubungan langsung dengan kesiapan tanaman memasuki fase produksi. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan, tetapi juga mendiskusikan persoalan yang mereka temui dalam praktik.
Salah satu pembahasan yang muncul adalah mengenai kastrasi dan dampaknya terhadap tanaman. Peserta juga bertanya mengenai bunga yang dapat menghasilkan buah serta pengaruh tindakan pemeliharaan terhadap tanaman.
Ketika tanaman sudah memasuki fase menghasilkan, pemeliharaan tidak berhenti. Peserta mempelajari rotasi perawatan gawangan, piringan, pasar pikul dan TPH, termasuk pruning. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai akses panen, jalan produksi dan fruitset.
Persoalan gulma menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. Peserta diperkenalkan pada cara mengidentifikasi dan mengendalikan gulma pada TBM dan TM. Mereka juga belajar menggunakan alat semprot dan APD serta mempraktikkan kalibrasi alat.
Praktik tersebut membuat peserta dapat melihat bahwa pengendalian gulma bukan hanya soal menyemprot. Dosis, penggunaan alat, kalibrasi dan cara aplikasi ikut menentukan efektivitas tindakan di lapangan.
Begitu pula dengan pemupukan. Peserta diajak memahami kebutuhan unsur hara dan prinsip 5T, mengenali gejala kekurangan unsur hara serta memahami perencanaan pemupukan untuk TBM dan TM. Diskusi berkembang pada rekomendasi dosis dan pencampuran pupuk.
Jika tanaman adalah aset utama kebun, maka kesehatan tanaman menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, pelatihan juga membahas Pengendalian Hama Terpadu, identifikasi hama utama, gejala serangan, deteksi dini dan sensus. Peserta kemudian mendapatkan pembahasan mengenai pengendalian hama, agensia hayati dan beneficial plant.
Pada sesi penyakit tanaman, pengalaman peserta kembali menjadi bagian dari diskusi. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa lahannya telah banyak ditemukan Ganoderma dan meminta penjelasan mengenai langkah pengendalian. Persoalan TBS yang kopong juga menjadi salah satu pertanyaan yang dibahas.
Rangkaian materi tersebut menunjukkan bahwa produktivitas sawit tidak dibangun hanya pada saat panen. Ada proses panjang yang harus dijaga sejak tanaman masih muda hingga menghasilkan.
Karena itu, selama enam hari pelatihan, peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga diajak melihat hubungan antarsetiap tindakan budi daya. Pembelajaran kelas dilengkapi praktik dan simulasi, kemudian diperkuat melalui kunjungan lapangan ke PT Duta Reka Mandiri.
Bagi pekebun OKU, pemahaman terhadap TBM dan TM menjadi bekal penting untuk mengelola kebun berdasarkan kebutuhan tanaman pada setiap fase. Dengan pengelolaan yang tepat, tanaman tidak sekadar tumbuh, tetapi diarahkan untuk mencapai potensi produksi dan mempertahankan produktivitasnya.#rr

