PALI

Efran: "Gajah Belago, Rakyat PALI yang Celaka!" Menimbang Pesan Damai Herman Deru di Tengah Narasi "Sesat" Rekonsiliasi

PALI, JS.Com - Di tengah kepulan asap hidangan buka puasa di Pendopoan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Selasa (10/10/2026), sebuah narasi kontradiktif sedang mendidih di akar rumput Bumi Serepat Serasan. Saat Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menebar benih damai melalui Safari Ramadhan 1447 H, di sudut lain, sebuah portal berita justru memantik api dengan diksi yang keras: "Sesat."

Herman Deru hadir bukan sekadar untuk seremoni. Pesannya tajam dan terukur. Ia menegaskan bahwa kemajuan PALI adalah harga mati yang hanya bisa dibayar dengan satu mata uang: Sinergi.

"Kedamaian dan kemajuan daerah hanya dapat tercapai jika ada hubungan yang harmonis antara Umara, Ulama, dan Umat," tegas Deru di hadapan jajaran Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat PALI.

Baginya, silaturahmi bukan sekadar jabat tangan formalitas, melainkan benteng agar masyarakat tidak mudah terpecah belah. Sikap saling menghargai adalah syarat mutlak agar roda pembangunan tidak macet di tengah jalan.

Benturan Narasi: Damai vs "Sesat Pikir"

Namun, pesan sejuk Deru tersebut seolah berbenturan keras dengan laporan citrasumsel.com. Media tersebut mengutip pernyataan yang melabeli wacana rekonsiliasi antara dua kubu raksasa PALI—Asgianto dan Heri Amalindo—sebagai sebuah "sesat pikir." Sebuah diksi yang menurut banyak pihak justru memperlebar jurang polarisasi.

Menanggapi hal ini, tokoh pemuda PALI, Efran, angkat bicara dengan nada lugas dan tanpa basa-basi. Bagi Efran, narasi yang menyebut perdamaian atau rekonsiliasi sebagai sesuatu yang "sesat" adalah pandangan yang menutup mata terhadap realitas sosiologis di lapangan.

"Saat ini rakyat PALI sedang terkotak-kotak. Pendukung Asgianto dan Heri Amalindo berdiri di dua sisi yang saling berhadapan. Kalau elite terus diprovokasi untuk tidak berdamai, siapa yang rugi? Bukan mereka yang di atas, tapi rakyat di bawah," cetus Efran dengan nada tajam saat dihubungi, Minggu (22/3/2026).

Analogi Gajah Berkelahi
Efran menilai, mempertahankan ego politik dengan berlindung di balik narasi "prinsip" yang kaku hanya akan melanggengkan konflik. Ia menggunakan peribahasa klasik untuk menggambarkan kondisi PALI saat ini.

"Ibarat gajah belago (berkelahi), kancil mati di tengah-tengah. Di PALI, kalau 'Gajah-Gajah' politik ini terus dibiarkan bersitegang dan rakyat terus dikompori dengan narasi sesat pikir terhadap perdamaian, maka pembangunan akan stagnan. Rakyatlah yang jadi korban," tambahnya.
Pandangan Efran ini sejalan dengan substansi pesan Herman Deru. Jika Deru menekankan bahwa kondisi damai adalah syarat mutlak pembangunan, maka Efran menegaskan bahwa rekonsiliasi adalah jalan keluar dari kebuntuan sosial.

Keberanian untuk Bersatu
Konfrontasi ideologi ini menjadi ujian bagi kedewasaan politik di PALI. Apakah Bumi Serepat Serasan akan memilih jalur "Sinergi" yang ditawarkan Herman Deru, atau justru terjerumus dalam lubang polarisasi yang dipicu oleh narasi-narasi provokatif?

Pesan Deru di Pendopoan Bupati adalah alarm bagi seluruh elemen di PALI. Pembangunan gedung, jalan, dan fasilitas kesehatan yang sedang berjalan di PALI tidak akan memiliki makna jika fondasi sosialnya retak.

Kini, bola panas ada di tangan para pemimpin dan tokoh masyarakat. Apakah mereka berani melangkah melampaui kepentingan kelompok demi kesejahteraan bersama, atau membiarkan rakyat terus terpecah dalam kotak-kotak pendukung yang tak kunjung usai? Satu yang pasti, bagi sosok seperti Efran, perdamaian bukanlah kesesatan, melainkan satu-satunya jalan rasional agar rakyat tidak terus-menerus menjadi korban dari laga para "Gajah."

0 0 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button