JP Morgan Beri Pandangan Overweight untuk Saham BBRI

Jakarta - JP Morgan menyematkan pandangan overweight terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
JP Morgan semakin memperkuat keyakinannya terhadap saham BBRI setelah kinerja bank pelat merah tersebut pada semester I-2026 melampaui konsensus analis.
“Kinerja BBRI pada 2Q26 mengalahkan perkiraan kami sebesar 21% dan perkiraan konsensus pasar sekitar 12%. Kinerja ini terutama didorong oleh sisi biaya, sementara pendapatan hanya 2% di atas perkiraan,” dikutip dari riset JP Morgan, Kamis (3/9/2026).
Riset yang terbit 31 Agustus 2026 tersebut disusun analis JP Morgan Harsh Wardhan Modi AC dan Daniel Andrew Tan, CFA.
Keduanya menilai kenaikan net interest income (NII) sebesar 1% secara kuartalan serta net interest margin (NIM) yang sesuai ekspektasi menjadi sinyal positif bagi BBRI.
Kendati demikian, JP Morgan mencatat sebagian peningkatan rasio keuangan tersebut disebabkan lonjakan loan-to-deposit ratio (LDR) menjadi 104% pada kuartal II-2026.
“Kemajuan dalam penyaluran dana pemerintah, serta kemampuan bank untuk menempatkan dana tersebut pada tingkat imbal hasil yang tinggi melalui Bank Indonesia (BI), akan menjadi faktor penting yang menentukan NIM, selain penyaluran dana secara komersial,” dikutip dari riset JP Morgan.
Selain itu, provisi sebesar 326 basis points (bps) gross dan 199 bps net menjadi faktor positif yang signifikan bagi BBRI. Terlebih, kualitas aset selama ini menjadi salah satu faktor utama yang menggerakkan harga saham.
Sementara itu, cost-to-income ratio (CIR) BBRI sebesar 41,5%, relatif lebih baik dibandingkan perkiraan JP Morgan.
Rasio non-performing loan (NPL) turun tipis menjadi 2,9%, sedangkan coverage ratio relatif stabil di level 180%. Loans at risk (LAR) turun 52 bps secara kuartalan menjadi 9,2%, sementara LAR coverage meningkat menjadi 57%.
“Penyaluran Kupedes kembali mengalami percepatan setelah mencapai titik terendah, menjadi Rp15,6 triliun pada kuartal II-2026 dibandingkan Rp15 triliun pada kuartal I-2026. Ini kenaikan kuartalan pertama dalam enam kuartal yang cukup menjanjikan,” dikutip dari riset yang sama.
Namun, kemampuan BBRI meneruskan kenaikan cost of funds kepada debitur relatif terbatas. Hal ini karena sebagian besar portofolio kredit perseroan terdiri dari pinjaman dengan suku bunga tetap dan semi-tetap.
Di sisi lain, BBRI tengah meningkatkan pertumbuhan kredit korporasi yang memiliki yield lebih rendah. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap NIM atau NIM compression.
“Namun, sebagian besar penurunan tersebut tampaknya sudah tercermin dalam harga saham (priced in) sejak munculnya kabar mengenai penurunan loan yield PNM,” dikutip dari riset JP Morgan.
JP Morgan menilai pemangkasan besar terhadap proyeksi konsensus pasar dalam beberapa hal dapat menjadi clearing event, setidaknya dalam jangka pendek. Kondisi tersebut berpotensi membuat revisi turun terhadap proyeksi berhenti sementara.
Jika dikombinasikan dengan valuasi yang berada di bawah minus dua standar deviasi (-2SD), kondisi tersebut berpotensi memicu rebound atau reli taktis pada saham BBRI.
“BBRI memiliki modal yang melebihi kebutuhan pertumbuhan. Oleh karena itu, kami memperkirakan rasio pembagian dividen (payout ratio) akan tinggi,” dikutip dari riset JP Morgan.
Adapun JP Morgan menetapkan target harga saham BBRI sebesar Rp3.400 per saham untuk Juni 2027.
Proyeksi tersebut didasarkan pada fair price to book value (P/BV) sebesar 1,24 kali yang diperoleh melalui metode dividend discount model. Asumsi yang digunakan mencakup normalized return on equity (RoE) sebesar 17,4%, risk-free rate 7%, cost of capital 15,4%, dan terminal growth rate 7%.
Senada, BNI Sekuritas turut memberikan pandangan positif terhadap saham BBRI dengan target harga Rp4.500 per saham dalam horizon tiga bulan.
Menurut BNI Sekuritas, valuasi BBRI relatif murah dengan forward PBV satu tahun sebesar 1,4 kali dan forward PE satu tahun sebesar 8 kali. Masing-masing berada sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
“Sementara itu, kekhawatiran terhadap kualitas aset tampaknya mulai mereda, tercermin dari tren penurunan pembentukan NPL,” dikutip dari riset BNI Sekuritas yang disusun Yulinda Hartanto, Ilham Firdaus, dan Vera Yap pada 31 Agustus 2026.
Double Digit
Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi menyebut pertumbuhan bisnis BBRI kembali menguat pada semester I-2026. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan laba yang mencapai 17,5% secara tahunan.
Hery menilai kinerja tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan BRI telah kembali, dengan tetap menjaga kualitas pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian.
“Kinerja kami, growth is back, strong, bisa dilihat pertumbuhan laba yang cukup bagus, kualitas pertumbuhan dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kami jaga dan kami yakin ke depan,” kata Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan II 2026 secara daring, Senin (31/8/2026).
Hingga semester I-2026, BBRI mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5% secara tahunan.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang peningkatan bisnis, perbaikan kualitas aset, serta efisiensi yang dilakukan perseroan.
Total aset BBRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% secara tahunan. Sementara itu, kredit tumbuh lebih agresif sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.
Sebagai bank dengan fokus utama pada sektor UMKM, portofolio kredit segmen tersebut tetap mendominasi dengan nilai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6% secara tahunan.
BBRI juga melakukan diversifikasi melalui pertumbuhan kredit konsumer, small and medium, komersial, dan korporasi.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BRI meningkat 6,7% secara tahunan menjadi Rp1.580,7 triliun.
Pertumbuhan terutama berasal dari dana murah. Giro tumbuh 8,5% dan tabungan 11,3%, sedangkan deposito hanya tumbuh 0,2%.
Komposisi tersebut membuat rasio CASA meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%. Perbaikan struktur pendanaan juga menekan cost of fund bank only dari 3% pada kuartal II-2025 menjadi 2,4% pada kuartal II-2026.
Dari sisi kualitas aset, rasio NPL BRI membaik dari 3,07% menjadi 2,9%. Sementara itu, LAR turun dari 9,6% pada Desember 2025 menjadi 9,1% pada Juni 2026.
Cost of credit juga turun dari 3,4% menjadi 3,1%.
Perbaikan tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan pendapatan. Net interest income (NII) BRI tumbuh 9,9% secara tahunan menjadi Rp80,5 triliun, sedangkan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) meningkat 12,8% menjadi [angka belum tercantum dalam naskah sumber].
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian global yang masih tinggi, BRI mampu menjaga momentum pertumbuhan yang sehat, memperbaiki kualitas aset, serta memperkuat profitabilitas.
“Transformasi yang kami jalankan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami melakukan penguatan dari sisi bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko yang tetap kuat. Transformasi ini membuat BRI semakin produktif dan mampu menjaga pertumbuhan secara sehat,” ujarnya.(os)

