Ogan Ilir

Raih Prestasi pada MTQ Tingkat SMA/SMK se-Sumsel, 2 Qori Bersaudara Asal Indralaya OI Ingin Masuk IPDN dan Akmil

Inderalaya

Ogan Ilir sebagai daerah santri seakan tak kehabisan talenta qori-qoriah muda yang mengukir prestasi di bidang tilawah.

Yang terbaru, tiga orang qori asal Ogan Ilir meraih prestasi membanggakan pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat SMA/SMK Negeri se-Sumatera Selatan.

MTQ ini diadakan di SMAN 5 Palembang selama empat hari mulai tanggal 31 Oktober hingga 3 November lalu.

Dua dari tiga qori berprestasi tersebut merupakan dua bersaudara yang berasal dari Dusun I Desa Sakatiga, Kecamatan Indralaya.

Mereka adalah Sultan Wijaya dan (17 tahun) dan Raihan Tanjung (15 tahun), yang sama-sama turun pada cabang tilawah putra.

“MTQ kemarin ada dua cabang, tahfiz dan tilawah. Saya dan kakak ikut cabang tilawah,” kata Raihan ditemui di kediamannya, Minggu (6/11/2022).

Pada gelaran MTQ tingkat SMA/SMK Negeri ini, Raihan “mengalahkan” kakaknya dengan meraih juara 1 pada cabang tilawah.

Sementara kakaknya Sultan harus puas meraih juara 3, sedangkan juara 2 diraih pelajar asal Palembang.

Satu qori asal Ogan Ilir lainnya asal Kecamatan Payaraman meraih juara harapan 3 pada cabang tilawah.

Bagi Raihan, gelar juara pertama ini merupakan grafik peningkatan setelah sebelumnya pada MTQ XXIX tingkat Sumsel pada Mei lalu, dia meraih medali perak atau juara 2 pada cabang tahfiz golongan 1 juz dan tilawah putra.

“Alhamdulillah, senang karena meraih juara pertama mengalahkan ratusan peserta. Ini berkat doa kedua orang tua juga,” ungkap pelajar kelas XI IPA 2 SMAN 1 Indralaya ini.

Sementara bagi Sultan, gelar juara 3 ini juga merupakan peningkatan karena pada MTQ XXIX, dia belum beruntung.

Sultan juga bersekolah di sekolah yang sama dengan adiknya dan kini duduk di bangku kelas XII IPS 3.

Dengan modal prestasi yang diraihnya, Sultan dan adiknya bertekad menjadi qori andal yang dapat mengharumkan Ogan Ilir, bahkan Sumatera Selatan.

“Karena memang setiap minggu, kami berdua selalu dapat panggilan untuk tilawah. Tapi kalau untuk perlombaan seperti MTQ, benar-benar harus mengasah kemampuan,” ujar Sultan.

Diakui Sultan, selama beberapa kali mengikuti MTQ, demam panggung bukan merupakan persoalan utama karena sudah terbiasa tampil di muka umum.

“Karena penilaian pada MTQ seperti kemarin itu kan ada tiga. Suara, penampilan dan tajwid. Kalau salah satunya kurang, maka penilaiannya juga kurang,” ungkap Sultan.

Setelah menamatkan SMA tahu depan, Sultan berencana ingin masuk Akademi Militer (Akmil) karena dia ingin menjadi TNI yang pandai tilawatil quran.

“Inginnya masuk Akmil atau IPDN. Begitu juga Raihan kalau sudah lulus SMA nanti,” tutur Fitria, ibunda Sultan dan Raihan yang menemani kedua putranya saat diwawancarai.

Menurut Fitria, sekitar enam tahun lalu, Sultan dan Raihan belajar mengaji dari bibinya yang juga qoriah nasional.

Setelah diarahkan, ternyata keduanya berbakat dan terus diasah dengan berlatih di rumah maupun di sekolah karena memang terdapat kegiatan ekstrakurikuler tilawatil quran.

Agar kualitas suara tetap terjaga, baik Sultan dan Raihan pantang mengonsumsi makanan dan minuman tertentu.

“Tidak minum es, tidak makan makanan berminyak dan pedas. Istirahat cukup,” ungkap Fitria.#prima

0 0 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button