HiburanPalembang

Film Pendek Berdurasi 20 Menit 'Gending Sriwijaya' Tayang, Targetkan Bongkar Budaya Filosofi Tari dan Jejak Wayang Palembang

Film Ini Diharapkan Mendunia

Palembang

Kekayaan seni dan budaya Palembang kembali diangkat melalui karya perfilman. Film docudrama berjudul “The Dance of Gending Sriwijaya” garapan Ikhsan Bastian resmi menjalani pemutaran perdana di IGM Convention Center, Palembang, Kamis (3/9/2026). Film pendek berdurasi 20menit ini tidak hanya ditargetkan untuk membongkar budaya filosofi tari dan Jejak Wayang Palembang, namun juga mengedukasi warga lokal dan dapat terkenal hingga manca negara.

     

Film tersebut mengangkat kisah tentang warisan maestro di balik Tari Gending Sriwijaya. Selain itu, karya ini juga berupaya mengenalkan kembali Wayang Palembang yang menjadi bagian dari kekayaan tradisi Sumatera Selatan kepada generasi muda

Kehadiran film ini tidak hanya ditujukan sebagai hiburan. Lebih dari itu, proses pembuatannya menjadi bagian dari upaya mendekatkan generasi muda dengan kesenian tradisional yang memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Palembang.

Pemutaran perdana film tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata Kota Palembang, M. Irman, S.STP., M.Si., beserta jajaran. Sejumlah pelaku seni dan insan kreatif juga hadir dalam kesempatan tersebut.

Salah satu hal menarik dari produksi film ini adalah keterlibatan siswa-siswi LTI IGM Palembang sebagai pemeran.

Para pelajar tersebut tidak hanya memperoleh kesempatan tampil dalam sebuah film, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mempelajari dan mengenal budaya leluhur. Mereka diperkenalkan lebih dekat dengan Tari Gending Sriwijaya dan Wayang Palembang.

M. Irman mengatakan karya seperti “The Dance of Gending Sriwijaya” menunjukkan bahwa industri perfilman dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan kebudayaan daerah.

“Perfilman memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Perfilman ini merupakan salah satu upaya pemerintah kita untuk maju dan bersaing,” ujarnya.

Menurut Irman, perfilman kini menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Produk audiovisual tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya serta berbagai potensi yang dimiliki suatu daerah.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap pemutaran perdana film tersebut. Menurutnya, karya ini berhasil mempertemukan kreativitas generasi muda dengan misi menjaga keberadaan seni dan budaya lokal.

“Pemutaran film perdana ini bukan hanya hiburan semata, tetapi mampu mengangkat kesenian dan budaya lokal di Sumatera Selatan,” katanya.

Sementara itu, sutradara “The Dance of Gending Sriwijaya”, Ikhsan Bastian, mengungkapkan bahwa film tersebut berangkat dari kegelisahannya melihat masih banyak generasi muda yang belum memahami secara mendalam filosofi dan makna Tari Gending Sriwijaya.

Selama ini, Tari Gending Sriwijaya telah dikenal sebagai salah satu ikon budaya Sumatera Selatan. Namun, menurut Ikhsan, belum banyak masyarakat yang mengetahui arti dan filosofi di balik setiap gerakan dalam tarian tersebut.

“Di Gending Sriwijaya itu, dari hati juga terpantik melihat banyak generasi-generasi saat ini belum memahami makna dan arti dari setiap gerak Gending Sriwijaya,” ujar Ikhsan didampingi Amanda P. Divanti, S.Sn., M.Sn.

Kegelisahan tersebut semakin kuat ketika Ikhsan melihat masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Palembang juga memiliki kesenian wayang.

Pertanyaan mengenai keberadaan wayang di Palembang menjadi salah satu pemantik dirinya bersama tim untuk mengangkat tradisi tersebut melalui sebuah karya audiovisual.

“Banyak sekali pertanyaan begitu. Nah, dari hati terpantiklah membuat karya. Sepertinya sudah saatnya kita membuat dan memperkenalkan budaya dan tradisi yang ada di Palembang,” katanya.

Melalui film ini, Tari Gending Sriwijaya dan Wayang Palembang dipadukan dalam satu cerita. Karya tersebut diharapkan dapat menjadi media yang menghubungkan generasi muda dengan akar budaya serta tradisi yang tumbuh di daerahnya.

Mengubah kekayaan tradisi menjadi sebuah karya film bukan perkara sederhana. Tim produksi harus melalui berbagai tantangan, mulai dari proses riset hingga pengambilan gambar.

Meski demikian, proses tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan “The Dance of Gending Sriwijaya” sebagai karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan pelestarian budaya.

Film ini sekaligus menjadi contoh bagaimana kreativitas generasi muda dapat diarahkan untuk menjaga keberadaan kesenian tradisional. Melalui medium film, warisan budaya Palembang diharapkan dapat kembali dikenal dan dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.

Ke depan, karya seperti ini diharapkan semakin memperkuat posisi seni dan budaya Sumatera Selatan sekaligus membuka ruang bagi subsektor perfilman dan ekonomi kreatif untuk terus berkembang.

Salah satu bintang utama perempuan bernama Calisa yang juga sebagai Runner Up 2 Duta Budaya Sumsel 2026 tingkat pelajar mengatakan sangat senang sekali bisa bermain film pendek untuk pertamakali, yang mengangkat budaya lokal Sumsel untuk mendunia.

"Kita bisa melestarikan tari gending sriwijaya, pengalaman baru dan alhamdulillah sangat menyenangkan bermain film pendek berdurasi 10menit ini sebagai pemeran utama,"katanya

Iapun berharap sumbangsihnya dalam film tersebut dapat menambah pengalaman dirinya untuk makin berkarya dan makin melangkah maju dalam ajang Duta Budaya di tingkat nasional 2026 pada Oktober mendatang. Ajang pemilihan tersebut merupakan wadah bagi generasi muda untuk melestarikan dan mempromosikan nilai budaya serta kearifan lokal.#rr

0 0 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x