Ogan Ilir

Febrita Lustia dan Fauziah Mawardi Jajal Mewarnai Kain Jumputan Menggunakan Pewarna Alam

 

Inderalaya

songket dan jumputan produksi Desa Ulak Bedil, Kecamatan Indralaya, Ogan telah memiliki tempat di hati para pecinta karya seni busana.

Tak terkecuali bagi Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia dan Hj. Fauziah Mawardi.

Tak hanya melihat koleksi kerajinan, Febrita dan Fauziah juga menjajal langsung proses mewarnai jumputan.

Keduanya dipandu pengrajin kain jumputan yang telah berpengalaman selama kurang lebih 10 tahun.

Baik Febrita maupun Fauziah, sama-sama mencoba mewarnai dengan bahan daun indigo yang menghasilkan warna biru.

Mula-mula, biang warna biru dimasukkan ke dalam air yang telah mendidih yang disimpan di sebuah ember.

Kemudian kain jumputan warna dasar putih dimasukkan ke dalam cairan warna selama beberapa menit.

Setelah itu, kain yang berwarna biru ditiriskan dan dianginkan seperti pakaian yang dijemur.

“Proses pewarnaan kain jumputan ini tidak mudah. Bagi pemula tentunya butuh ketelitian dan keuletan,” kata Febrita didampingi Fauziah usai menjajal mewarnai kain jumputan, Senin (10/10/2022) siang.

Selain belajar cara mewarnai jumputan, Febrita dan Fauziah melihat langsung proses penenunan kain songket di rumah salah seorang pengrajin.

Meski sudah sering melihat proses penenunan songket, kedua istri pimpinan Provinsi Sumatera Selatan ini mengaku tak bosan ingin terus belajar mengenai kearifan lokal daerah.

“Harapannya semoga kerajinan songket dan jumputan Ogan Ilir semakin berkembang, maju dalam inovasi serta produksi,” ucap Febrita diamini Fauziah.

Pada kesempatan sama, Ketua Pokja III TP PKK Sumsel Shinta Irasnawati mengatakan, pewarna dari bahan alam merupakan salah satu bentuk kemajuan inovasi kerajinan khas daerah.

Beberapa bahan pewarna alam yang diaplikasikan pada songket maupun jumputan diantaranya kulit kayu secang, tangkai batang indigo, kulit buah jengkol, buah mengkudu dan kulit rambutan hutan.

Menurut Shinta, songket dan jumputan dengan pewarna alam memerlukan perlakuan khusus untuk menjaga kualitas kain.

Contohnya, setelah dipakai, kain harus dianginkan namun tak boleh terpapar sinar matahari secara langsung.

“Jadi, kain dianginkan di bawah tempat yang ada atapnya. Dianginkan selama satu dua hari, tapi jangan kelamaan juga karena takut jamuran,” jelas Shinta.

Karena perawatan yang tak sederhana, kain songket dan jumputan produksi Ulak Bedil memiliki nilai harga dua hingga tiga kali lipat dibanding kerajinan serupa yang menggunakan pewarna kimia.

“Kalau songket warna alam mulai harga Rp 3,5 juta hingga di atas Rp 10 juta. Kalau yang jumputan mulai dari Rp 350 ribu sampai jutaan rupiah,” ungkap Shinta.

Dua macam kain kerajinan asal Ulak Bedil ini tak hanya menembus pasar domestik, namun juga mancanegara.

Seperti negara Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang dan Amerika Serikat, meskipun geliat ekspor tersebut belum terlalu masif.

“Proses pewarnaan alam seperti yang dicoba Ibu Febrita dan Ibu Fauziah adalah tahapan tersulit dalam produksi kain songket maupun jumputan. Inilah karya seni bernilai tinggi yang harus terus kita kembangkan dengan berbagai inovasi,” kata Shinta.#prima

0 0 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button